Pantaunews.co.id, 10 Desember 2025 – Konflik perbatasan Thailand-Kamboja memasuki hari keempat dengan eskalasi dahsyat. Oleh karena itu, pertempuran meluas ke lima provinsi di wilayah perbatasan kedua negara pada Selasa (9/12/2025), menewaskan setidaknya 10 orang dan memaksa lebih dari 140 ribu warga sipil mengungsi.
Pertama-tama, Thailand melancarkan serangan udara dan mengerahkan tank ke daerah sengketa, sementara Kamboja balas dengan roket dan drone kamikaze.

Baca Juga
Kebakaran Dahsyat Gedung Terra Drone: 22 Orang Tewas, Dugaan Korsleting Baterai Drone
Selanjutnya, militer Thailand melaporkan tiga tentara tewas dan 29 luka-luka sejak Senin, akibat serangan Kamboja di Pangkalan Anupong. Kemudian, Kamboja klaim tujuh warganya tewas dan 20 terluka, termasuk sipil di Provinsi Banteay Meanchey.
Dengan begitu, total korban jiwa mencapai 10 orang, sementara pengungsian massal terjadi di tujuh provinsi Thailand dan lima di Kamboja. Lebih dari 400 ribu orang dievakuasi di Thailand, 101 ribu di Kamboja, menuju tempat penampungan aman.
Baca Juga
SPBU Shell Mulai Jual BBM Lagi, Segini Harganya
Kemudian, kedua pihak saling tuduh memprovokasi. Selain itu, Thailand tuding Kamboja bangun pangkalan di wilayah kedaulahnya di Trat, sementara Phnom Penh klaim Bangkok langgar gencatan senjata yang dimediasi AS pada Oktober lalu. PM Thailand Anutin Charnvirakul sumpah tak gencatan sebelum ancaman berakhir, sementara PM Kamboja Hun Manet siap “duduk bareng” bilateral.
Selanjutnya, konflik ini akar dari sengketa Kuil Preah Vihear sejak 1907, yang ICJ putuskan milik Kamboja 1962 tapi batas wilayah ambigu. Akibatnya, pertempuran Juli 2025 (48 tewas, 300 ribu mengungsi) kini kambuh, libatkan jet, tank, dan drone. ASEAN desak mediasi, tapi Thailand tolak pihak ketiga.
Terakhir, situasi makin ngeri, warga sipil korban utama. Kedua negara ungsikan penduduk, tapi perang berlanjut. Dunia pantau, damai mendesak!
Baca Juga: Arsenal Mulai Dikejar Man City Jelang Tahun Baru, Posisi Puncak Makin Panas











