Pantaunews.co.id, Jakarta, 26 Februari 2026 – Sejumlah emiten kelapa sawit di Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung tertekan setelah pemerintah Amerika Serikat secara resmi membatalkan rencana pengenaan tarif tambahan 25–35% terhadap minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya asal Indonesia. Keputusan mendadak ini diumumkan Departemen Perdagangan AS pada 24 Februari malam waktu Washington, dan langsung memicu aksi jual besar-besaran di saham sektor sawit pagi ini.
Penurunan Saham Emiten Sawit Hari Ini
Berdasarkan data perdagangan BEI hingga pukul 11.30 WIB, mayoritas saham emiten sawit anjlok signifikan:

Baca Juga
Purbaya Blacklist Suami Istri Viral LPDP dari Instansi Pemerintah
- LSIP (PT PP London Sumatra Indonesia Tbk) – turun 7,8% ke Rp 860
- TAWR (PT Tunas Baru Lampung Tbk) – anjlok 6,9% ke Rp 520
- AALI (PT Astra Agro Lestari Tbk) – terkoreksi 5,4% ke Rp 6.150
- SSMS (PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk) – minus 4,7% ke Rp 1.320
- STAA (PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk) – turun 3,9% ke Rp 3.680
Menurut pernyataan resmi USTR (United States Trade Representative), pembatalan tarif dilakukan setelah melalui negosiasi intensif dengan pemerintah Indonesia dan asosiasi produsen sawit. Alasan utama:
- Indonesia bersedia meningkatkan kuota impor biodiesel AS dan membuka akses pasar lebih luas untuk produk pertanian Amerika
- Komitmen Indonesia mempercepat sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) agar setara dengan standar RSPO internasional
- Tekanan dari pelaku industri AS sendiri (terutama produsen margarin dan kosmetik) yang bergantung pada CPO murah dari Indonesia
Baca Juga
Update Ranking Super League di Asia, Usai Persib Bandung Gugur di ACL Two
Meski tarif batal, analis pasar memperingatkan bahwa sentimen negatif jangka pendek masih kuat karena investor khawatir negosiasi serupa bisa muncul kembali di masa depan.
Sekretaris Perusahaan PT Astra Agro Lestari Tbk menyatakan perusahaan tetap optimistis karena ekspor ke AS hanya menyumbang sekitar 8–10% dari total penjualan. Namun, emiten yang lebih bergantung pada pasar AS seperti LSIP dan TAWR terlihat lebih terdampak.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dalam keterangan singkat mengatakan:
“Pembatalan tarif ini kabar baik bagi petani sawit. Kami akan terus memperkuat diplomasi ekonomi agar produk sawit Indonesia tetap kompetitif di pasar global.”
Analis Samuel Sekuritas memperkirakan saham sawit masih berpotensi rebound dalam 1–2 minggu ke depan seiring meredanya sentimen negatif. Namun, jika terjadi eskalasi kembali dalam negosiasi perdagangan AS–Indonesia, sektor ini berisiko mengalami koreksi lanjutan hingga 10–15%.
Baca Juga: 223 Kunci Jawaban Brain Out: Simak Penjelasan Lengkap!











