EkonomiNews

Rupiah Masih Tertekan, Tembus Level Rp 16.900 per Dolar AS

×

Rupiah Masih Tertekan, Tembus Level Rp 16.900 per Dolar AS

Share this article
Rupiah Masih Tertekan, Tembus Level Rp 16.900 per Dolar AS
Rupiah Masih Tertekan, Tembus Level Rp 16.900 per Dolar AS

Pantaunews.co.id, Jakarta, 13 Maret 2026 – Nilai tukar rupiah kembali melemah signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan pagi ini (13/3/2026), kurs tengah Bank Indonesia mencatat rupiah berada di level Rp 16.897,09 per USD, bahkan sempat menyentuh Rp 16.897,09 intraday di pasar spot. Ini menjadi level terlemah rupiah sejak Oktober 2025.

Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah

Analis pasar menyebut ada beberapa pemicu utama:

  • Kenaikan yield US Treasury – yield US 10-Year Treasury kembali menembus 4,65%, membuat dolar AS semakin menarik bagi investor global.
  • Kebijakan The Fed yang hawkish – pidato terbaru Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan inflasi AS masih belum sepenuhnya terkendali, sehingga peluang pemotongan suku bunga lebih kecil dari perkiraan pasar.
  • Aliran modal keluar (capital outflow) – investor asing terus menarik dana dari pasar saham dan obligasi Indonesia sejak awal tahun. Data LQ45 dan SBN menunjukkan net sell asing mencapai Rp 18,7 triliun sejak Januari 2026.
  • Kekhawatiran defisit neraca transaksi berjalan – impor energi dan bahan baku masih tinggi, sementara harga komoditas ekspor (nikel, batubara, CPO) terkoreksi 8–12% sejak awal tahun.
Rupiah Masih Tertekan, Tembus Level Rp 16.900 per Dolar AS
Rupiah Masih Tertekan, Tembus Level Rp 16.900 per Dolar AS
Baca Juga

Apakah Ukuran Kertas F4 dan Legal Sama? Simak Ini Penjelasannya!

Respons Bank Indonesia & Pemerintah

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam keterangan pers singkat menyatakan BI tetap melakukan triple intervention:

  • Intervensi pasar spot & DNDF
  • Intervensi obligasi SBN di pasar sekunder
  • Memperkuat aliran masuk valas dari sektor ekspor

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan pemerintah tidak akan melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing, melainkan fokus pada fundamental ekonomi domestik, terutama pengendalian inflasi dan defisit APBN yang ditargetkan di bawah 2,8% PDB.

Dampak ke Masyarakat & Pelaku Usaha

Pelemahan rupiah ini langsung terasa:

  • Harga BBM nonsubsidi naik Rp 300–500 per liter
  • Harga daging sapi impor dan kedelai naik 5–8%
  • Utang luar negeri swasta menjadi lebih mahal
  • Inflasi diperkirakan naik 0,15–0,25% pada Maret–April 2026
Baca Juga

Apa Itu Proxy Video Barat Terbaru? Ini Penjelasan Lengkapnya

Namun di sisi lain, eksportir komoditas (nikel, batubara, sawit) mendapat keuntungan dari nilai tukar yang lebih tinggi.

Rupiah tembus Rp 16.897,09 per dolar AS menandakan tekanan eksternal yang masih kuat. Meski BI terus intervensi, pasar menilai fundamental ekonomi domestik masih perlu penguatan lebih lanjut agar rupiah bisa kembali menguat ke kisaran Rp 16.200–16.400. Investor dan masyarakat diimbau tetap waspada terhadap volatilitas nilai tukar dalam beberapa minggu ke depan. Pantau terus update resmi dari Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan.

Sumber Terpercaya: https://pantaunews.co.id/