PANTAUNEWS.CO.ID — Krisis energi global semakin mengancam. Pakar energi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ir. Hadi Syafrudin memperingatkan Indonesia harus segera mandiri energi agar tidak terdampak parah akibat konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz.
Peringatan Pakar UMM
“Indonesia tidak boleh lagi bergantung pada impor BBM dan gas. Krisis yang terjadi sekarang adalah momentum bagi kita untuk mempercepat transisi energi dan meningkatkan produksi dalam negeri. Jika tidak, kita akan sangat rentan.”

BACA JUGA
Video Viral Seorang Pilot F-15 AS yang Ditangkap Iran Ternyata Ini Faktanya
Demikian pernyataan Dr. Hadi Syafrudin, dosen sekaligus pakar energi UMM, dalam seminar daring bertajuk “Kemandirian Energi Indonesia di Tengah Krisis Global” pada Sabtu (4 April 2026).
Ancaman yang Mengintai Indonesia
Menurut pakar UMM, beberapa ancaman nyata yang dihadapi Indonesia saat ini meliputi:
- Penutupan Selat Hormuz yang mengganggu pasokan minyak mentah
- Lonjakan harga BBM dunia yang bisa memicu inflasi domestik
- Keterbatasan cadangan BBM nasional yang hanya cukup untuk 25-30 hari
- Ketergantungan tinggi pada impor solar dan avtur
“Kita masih mengimpor lebih dari 40% kebutuhan BBM,” ujarnya. “Ini sangat berbahaya jika pasokan terganggu lebih lama.”
BACA JUGA
Polres Purwakarta Mendalami Kasus Penganiayaan Maut Pemilik Hajatan
Solusi yang Harus Segera Dilakukan
Dr. Hadi menekankan tiga langkah mendesak yang harus dilakukan pemerintah:
- Mempercepat pengembangan energi terbarukan (matahari, angin, geothermal)
- Meningkatkan produksi minyak dan gas dalam negeri
- Membangun cadangan strategis BBM nasional minimal untuk 90 hari
“Kemandirian energi bukan lagi pilihan, tapi keharusan,” tegasnya.
Pakar UMM menegaskan bahwa krisis energi saat ini harus dijadikan momentum bagi Indonesia untuk bertransformasi. Jika tidak segera bertindak, dampaknya akan sangat dirasakan masyarakat dalam bentuk kenaikan harga BBM, listrik, dan inflasi yang tidak terkendali.
Sumber Terpercaya: https://pantaunews.co.id/











